sejarah islam

Pages

  • Beranda
Mini Rage Face OMG Smiley
animasi bergerak gif
My Widget
animasi bergerak gif
My Widget

Blog Archive

  • ▼  2013 (30)
    • ▼  Maret (9)
      • kondisi umat islam saat ini dan akar permasalahan ...
      • Populasi Muslim Dunia ( Part 3 ) : Muslim Sunni da...
      • Populasi Muslim di Dunia (Muslim population in the...
      • Posisi Masyarakat Islam di Singapura Dewasa Ini
      • Masuknya Islam dan Perkembanganya di Singapura
      • ALIF TERKINI Subhanallah, Perempuan Inggris...
      • PERKEMBANGAN PENDIDIKAN DAN BUDAYA ISLAM DI INDONESIA
      •   PENDAHULUAN Ketika nabi Muhammad SAW lahir (...
      • Kondisi Agama Bangsa Arab Sebelum Kedatangan Rasul...
    • ►  Februari (21)

About Me

Unknown
Lihat profil lengkapku
Powered By Blogger

Archive

  • ▼ 2013 (30)
    • ▼ Maret (9)
      • kondisi umat islam saat ini dan akar permasalahan ...
      • Populasi Muslim Dunia ( Part 3 ) : Muslim Sunni da...
      • Populasi Muslim di Dunia (Muslim population in the...
      • Posisi Masyarakat Islam di Singapura Dewasa Ini
      • Masuknya Islam dan Perkembanganya di Singapura
      • ALIF TERKINI Subhanallah, Perempuan Inggris...
      • PERKEMBANGAN PENDIDIKAN DAN BUDAYA ISLAM DI INDONESIA
      •   PENDAHULUAN Ketika nabi Muhammad SAW lahir (...
      • Kondisi Agama Bangsa Arab Sebelum Kedatangan Rasul...
    • ► Februari (21)

jam

Followers

Senin, 11 Maret 2013
  PENDAHULUAN
Ketika nabi Muhammad SAW lahir (570 M), Makah adalah sebuah kota yang sangat penting dan terkenal di antara kota-kota di negeri Arab, baik karena tradisinya maupun karena letaknya. Kota ini dilalui jalur perdagangan yang ramai, menghubungkan Yaman di selatan dan Syiria di utara. Dengan adanya Ka’bah di tengah kota, Makkah menjadi pusat keagamaan Arab. Makkah kelihatan makmur dan kuat. Agama dan masyarakat Arab ketika itu mencerminkan realitas kesukuan masyarakat jazirah Arab dengan luas satu juta mil persegi.
Bila dilihat dari asal usul keturunan, penduduk jazirah Arab dapat dibagi menjadi menjadi dua golongan besar yaitu : Qahthaniyun (keturunan Qahthan) dan Adnaniyun (keturunan Ismail Ibn Ibrahim). Pada mulanya wilayah utara diduduki golongan Adnaniyun, dan wilayah selatan didiami golongan Qahthaniyun. Akan tetapi lama kelamaan kedua golongan itu membaur karena perpindahan dari utara ke selatan atau sebaliknya .[1]
    II.            RUMUSAN MASALAH
A.    Bagaimanakah keadaan sosial Makkah sebelum islam?
B.     Bagaimanakah keadaan Makkah setelah Islam masuk ?
 III.            PEMBAHASAN
A. Kondisi Sosial
  Kota Mekah merupakan tempat yang dipandang suci oleh seluruh bangsa Arab. Kota Mekah sejak awal didirikan telah mengenal sistem pemerintahan.Beberapa suku pernah memegang kekuasaan atas kota Mekah, yaitu suku Amaliqah (sebelum Nabi Ismail dilahirkan), suku Jurhum, dan suku Khuza’ah (440 M). Suku Khuza’ah yang mengambil kekuasaan Mekah dari suku Jurhum mendirikan Darun Nadwah, yaitu tempat untuk bermusyawarah bagi penduduk Mekah di bawah pengawasan Qushai.

1)      Jahiliyah
Konteks sosial masyarakat Makkah Pra Islam yaitu Jahiliyah. Bagi sebagian kalangan jailiyah di artikan sebagai komunitas orang yang bodoh. Namun Muhammad al Jabiry membantah pandangan tersebut, karena masyarakat pra islam sudah mempunyai kebudayaan sendiri.
Masyarakat jahiliyah hidup sebagaimana layaknya masyarakat yang lain. hanya saja sistem hidupnya ditentukan sejauhmana otoritas kesukuan dan kekuasaan ekonomi mempengaruhi sebuah tatanan sosial. Tidak adanya norma hukum dan nabi di tengah-tengah kalangan Quraysh telah menyebabkab munculnya konflik diantara mereka. Maka pada saat itu dikenal dengan istilah Ayyam al-‘Arab (Hari-hari orang arab). Menurut Hitti, tradisi ini mengisahkan tentang permusuhan antar suku yang disebabkan oleh persengketaan dalam soal hewan ternak, padang rumput dan mata air.
Ada 3 kelompok masyarakat jahiliyah yaitu : Pertama, masyarakat pagan yang nomaden. Mereka adalah kelompok yang kaya dan mempunyai tradisi keberagaman yang amat beragam. Tradisi mereka yang nomaden masih memberikan ruang  untuk mencari agam yang memberikan mereka solusi terhadap kebutuhan pokok sehari-hari.
Kedua, masyarakat pagan yang menetap, jika dibandingkan dengan masyarakat pagan yang nomaden, mereka yang menetap ini lebih religius. Dari segi keyakinan mereka dikenal sebagai penyembah berhala. Kelompok ketiga yaitu mereka yang meyakini adanya tuhan tetapi mereka tidak menafikan keberadaan kelompok lain.[2]
Masyarakat baik nomadik maupun yang menetap, hidup dalam budaya kesukuan Badui. Organisasi dan identitas sosial berakar pada keanggotaan dalam suatu rentang komunitas yang luas. Kelompok beberapa keluarga membentuk Kabilah. Beberapa kelompok Kabilah membentuk Suku dan dipimpin oleh seorang Syaikh. Mereka sangat menekankan hubungan kesukuan, sehingga kesetiaan atau solidaritas kelompok menjadi sumber kekuatan bagi suatu kabilah atau suku. Mereka suka berperang oleh karena itu peperngan antar suku sering sekali terjadi. Sikap ini tampaknya sudah menjadi tabiat yang mendarah daging dalam diri masyarakat Arab. Karena itu perang antar suku sering terjadi. Dalam masyarakat yang suka berperang tersebut, nilai wanita menjadi sangat rendah. Dunia Arab ketika itu merupakan kancah peperangan yang terus menerus.[3]
2)      Pusat perdagangan
Sumber ekonomi utama yang menjadi penghasilan orang Arab adalah perdagangan dan bisnis. Orang-orang Arab di masa jahiliyah sangat dikenal dengan bisnis dan perdagangannya. Perdagangan menjadi darah daging orang-orang Arab.[4]
Ada Tiga alasan yang menyebabkan Makkah menjadi salah pusat perdagangan : Pertama, Ka’bah sebagai tempat suci yang membuat setiap orang terkesanuntuk mengunjunginya. Kedua, air Zamzam, kita tahu timur tengah adalah tempat yang tandus, yang tidak mudah untuk mendapatkan air. Maka, keberadaaan sumber air zamzam dengan nilai kesejarahannya yang sangat luar biasa menjadi pemikat banyak orang untuk mendatanginya. Ketiga,Makkah adalah tempat yang menjamin keamanan dan kenyamanan. Mereka yang datang ke Makkah dilarang untuk menumpahkan darah. Untuk memuliakan dan menghormati Ka’bah.[5]
3)      Pusat peradaban
Kultur yang berkembang pada masyaakat Arab pada umumnya adalah kultur klenik. Dan dikenal dengan ilmu pengetahuan dan filsafatnya. Bahasa merupakan yang penting dalam pembentukan kebudayaan orang-orang Makkah Pra-Islam. Karena dengan bahasa mereka mampu menjalin kerjasama dengan masyarakat Arab lainnya diluar Makkah. Disamping itu Syair merupakan salah satu kekuatan tersendiri, karena hal tersebut sebagai cara untuk mengekspresikan perasaan orang Arab. Para penyair di anggap sebagai salah satu kelompok yang menyuarakan perasaan mereka. Karya sastra Pra-Islam yang sangat populer antara lain al-Muallaqaat, karya Abu Tamam, al-Aghani, Mukhtaridat karya Ibnu al-Syajari dan karya lain-lainnya.[6]
B. Arab Setelah Islam
1.      Kelahiran dan Empat Puluh Tahun Sebelum Nubuwah
Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada 12 Rabi’ul Awal 570 M. Ayahnya Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim seorang kepala suku Quraisy yang besar pengaruhnya. Ibunya adalah Aminah binti Wahab bin Bani Zuhrah.[7]Selagi nabi Muhammad SAW masih dalam kandungan ibunya, Ayahnya telah meninggal dunia di kota Yatsrib (Madinah).[8] Muhammad kemudian diserahkan kepada ibu pengasuh, Halimah Sa’diyyah. Dalam asuhannya Muhammad dibesarkan sampai usia empat tahun. Setalah berusia enam tahun Beliau menjadi Yatim piatu karena ditinggal oleh ibunya.
Setelah aminah meninggal. Abdul muthalib mengambil alih tanggungjawab merawat Muhammad. Namun dua tahun kemudian Abdul Muthalib meninggal dunia. Tanggungjawab selanjutnya beralih kepada panamnya, Abu Thalib. Seperti juga Abdil Muthalib, dia sangat disegani dan dihormati orang Quraisy dan penduduk Makkah, tetapi dia miskin.
Dalam usia muda Muhammad hidup sebagai pengembala kambing. Melalui pengembalaan ini dia menemukan tempat berpikir dan termenung. Pemikiran dan perenungan ini membuatnya jauh dari segala pemikiran nafsu duniawi. Sehingga ia terhindar dari segala macam noda yang yang dapat merusak namanya, karena itu sejak muda ia sudah dijuluki al-amin, orang yang terpercaya.
Nabi Muhammad ikut untuk pertama kali dalam kafilah dagang ke Syiria dalam usia 12 tahun. Dalam perjalanan ini, di Busra sebelah selatan Syiria ia bertemu dengan pendeta kristen bernama Buhairah. Pendeta ini melihat tanda-tanda kenabian pada Muhammad. Pada usia yang ke 25, Muhammad berangkat ke Syiria membawa barang dagangan saudagar wanita kaya yang telah menjanda, Khadijah. Dalam perdagangan ini Muhammad memperoleh laba yang besar. Khadijah kemudian melamarnya, lamaran itu diterima dan pernikahannya segera dilaksanakan. Khadijah adalah wanita pertama yang masuk islam dan banyak membentu nabi Muhammad dalam perjuangan menyebarkan islam. Dalam pernikahan itu mereka dikaruniai enam orang anak,  dua putra empat putri : Qasyim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kulsum, dan fatimah. [9]
2.      Bangsa Arab Sebelum Fathul Mekah
Ketika Islam pertama kali disiarkan oleh nabi Muhammad SAW secara terang-terangan,bangsa Arab melakukan penolakan. Terutama kaum Quraisy yang sangat tidak menerima agama baru yang di bawa oleh nabi Muhammad SAW. Mereka tetap berpendapat bahwa kepercayaan watsanilah yang paling benar. Karena kepercayaan tersebut menupakan warisan dari nenek moyang mereka. Kaum Quraisy berpendapat bahwa kepercayaan yang telah di anut oleh nenek moyang mereka itu telah cukup untuk mereka. Bahkan mereka menyeru nabi Muhammad untuk tidak menyiarkan Islam dan kembali pada kepercayaan Watsani.
Perilaku bangsa Arab pada masa sebelum fatahul Mekah, belum terdapat perubahan yang besar. Mereka masih saja melakukan kebiasaan-kebiasaan jahiliyah. Hanya beberapa orang yang masuk Islam saja yang mengalami perubahan-perubahan perilaku. Sedangkan sebagian besar bangsa Arab yang belum masuk Islam tetap meneruskan kebiasaan-kebiasaan mereka. Pada waktu ini nabi Muhammad SAW mendapatkan tantangan yang sangat berat dalam menyebarkan Islam.[10]
3.      Bangsa Arab Setelah Fathul Mekah
Setelah terjadinya penaklukkan terhadap kota Mekah, penduduk kota tersebut yang masih menganut kepercayaan watsani tiba-tiba berbondong-bondong menyatakan bahwa mereka masuk Islam.
Maka sejak itu terjadi perubahan-perubahan yang besar terhadap mereka baik dari segi watak, budaya dan kepercayaan. Dari segi watak, perubahan yang terjadi yaitu bangsa Arab yang semula sangat bangga dengan kabila, darah dan turunannya masing-masing maka ketika Islam telah menjadi agama yang mereka anut mereka dipersatukan di atas suatu bendera dengan satu nama yaitu Islam.[11]
Sehingga bangsa Arab saat itu saling menghormati satu sama lain dan karena itu pula perselisihan-perselisihan antar kabilah yang sering terjadi pada masa jahiliyah dapat dihindarkan.Islam juga mengajarkan untuk saling menyayangi satu sama lain ,menyambung tali silaturahim dan bertetangga dengan baik.[12]
Dilihat dari segi budaya,perubahan yang terjadi ialah:
·         Bangsa Arab yang semula sangat gemar melantunkan dan mendengarkan syair-syair para penyair di pasar Ukaz pada zaman Islam, mereka asik membaca Qur'an siang dan malam.
·         Kebiasaan meratap yang sering dilakukan pada masa jahiliah mereka tinggalkan. Karena agama Islam telah melarang perbuatan meratap.
·          Pada zaman Islam, bangsa Arab juga telah merubah kebiasaan mereka yang suka membunuh anak perempuan yang baru lahir.
·         Terhapusnya sistem perbudakan karena dalam Islam semua orang memiliki hak yang sama.
·          Adanya pengaturan terhadap pernikahan. Sehingga kebiasaan mengawini janda bekas ayah yang dilakukan oleh masyarakat jahiliah dilarang.[13]
Perubahan-perubahan yang dibawa Islam dalam sistem kepercayaan bangsa Arab sangat jelas terlihat. Bangsa Arab tidak lagi menyembah berhala, matahari dan bulan. Mereka mengamalkan ajaran-ajaran islam seperti : salat, puasa, membayar zakat, dan berhaji.[14]

sumber: http://multazam-einstein.blogspot.com/2013/01/kondisi-sosial-masyarakat-makah-sebelum.html

Diposting oleh Unknown di 03.43 1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Kondisi Agama Bangsa Arab Sebelum Kedatangan Rasulullah SAW



Sebagian besar bangsa Arab mengikuti dakwah Isma’il a.s. yang menyeru kepada agama bapaknya, Ibrahim a.s., yang intinya menyembah kepada Allah, mengesakan-Nya, dan memeluk agama-Nya. Lama kelamaan banyak diantara mereka yang melalaikan ajaran agama Isma’il meskipun begitu masih ada sisa-sisa tauhid dan beberapa syiar dari agama Ibrahim. Sampai suatu saat muncul Amr bin Luhay, pemimpin Bani Khuza’ah. Amr dikenal sebagai orang yang bijak, suka mengeluarkan sedekah, dan respek terhadap urusan-urusan agama. Karena sifat-sifatnya tersebut Amr menjadi dicintai semua orang dan mereka menganggapnya sebagai wali dan ulama besar yang disegani. Kemudian Amr mengadakan perjalanan ke Syam. Di Syam beliau melihat penduduknya menyembah berhala dan menganggapnya sebagai suatu hal yang baik dan benar sebab menurutnya Syam adalah tempat para Nabi dan Rasul. Amr kembali ke Mekkah dengan membawa satu berhala bernama Hubal dan meletakkannya di dalam Ka’bah. Amr juga mengajak penduduk Mekkah untuk ikut menyembah berhala. Tindakan para penduduk Mekkah pun diikuti oleh orang-orang Hijaz karena mereka menganggap penduduk Mekkah adalah pengawas Ka’bah dan penduduk Tanah Suci.
Tiga berhala paling besar diberi nama Manat (di tepi Laut Merah di Qudaid), Lata (di Tha’if) dan Uzza (di Wadi Nakhlah). Kemusyrikan semakin menyebar dan berhala-berhala kecil mulai bermunculan di setiap tempat di Hijaz. Dikisahkan bahwa Amr mempunyai pembantu dari jenis jin. Jin ini memberitahukan pada Amr bahwa berhala-berhala kaum Num (Wus, Suwa’,
Yaghuts, Ya’uq dan Nasr) terpendam di Jiddah. Maka Amr datang ke Jiddah dan membawanya ke Timamah. Ketika musim haji tiba Amr menyerahkan berhala-berhala tersebut kepada beberapa kabilah. Sehingga setiap kabilah dan di setiap rumah hampir pasti ada berhala dan patung. Ketika Rasulullah SAW menaklukkan Mekkah di sekitar Ka’bah ada sekitar 360 berhala. Rasulullah SAW menghancurkan berhala-berhala itu hingga runtuh semua lalu memerintahkan agar berhala-berhala itu dikeluarkan dari masjid dan dibakar.
Upacara Penyembahan Berhala
Mereka juga mempunyai beberapa tradisi dan upacara penyembahan berhala yang mayoritas diciptakan Amr bin Luhay. Sementara orang-orang mengira bahwa yang diciptakan Amr adalah sesuatu yang baru dan baik serta tidak mengubah agama Ibrahim. Diantara upacara penyembahan berhala yang mereka lakukan adalah:
  1. Mengelilingi berhala dan mendatanginya, berkomat-kamit di hadapannya, meminta pertolongan ketika mengalami kesusahan, berdoa untuk memnuhi kebutuhan dengan penuh keyakinan bahwa berhala-berhala itu bisa memberikan syafaat di sisi Allah dan mewujudkan apa yang mereka kehendaki.
  2. Menunaikan ibadah haji dan thawaf di sekeliling berhala, merunduk dan sujud di hadapannya
  3. Bertaqarrub (mendekatkan diri) dengan menyajikan berbagai macam korban, menyembelih hewan piaraan, dan hewan
    korban demi berhala dan menyebut namanya
  4. Jenis taqarrub yang lain, mengkhususkan sebagian dari makanan dan minuman yang mereka pilih untuk disajikan kepada
    berhala dan juga dikhususkan begian tertentu dari hasil panen dan binatang piaraan mereka. Ada pula yang mengkhususkan sebagian lain untuk Allah
  5. Bernadzar memberikan sebagian hasil tanaman dan ternak untuk berhala-berhala
  6. Ada al-bahirah, as-sa’ibah, al-washilah, al-hami yang diperlakukan sedemikian rupa sebagai berhala.
    Ibnu Ishaq berkata,
    “Al-Bahirah anak as-saibah adalah anak onta betina yang telah beranak sepuluh yang semuanya betina dan sama sekali tidak mempunyai anak jantan. Onta ini tidak boleh ditunggangi, tidak boleh diambil bulunya, dan susunya tidak boleh diminum kecuali oleh tamu. Jika kemudian melahirkan anak betina lagi maka telinganya harus dibelah. Setelah itu ia harus dilepaskan secara bebas bersama induknya yang juga harus mendapat perlakuan yang sama.
    Al-Washilah adalah domba betina yang mempunyai 5 anak kembar yang semuanya betina secara berturut-turut. Domba ini bisa sebagai sarana taqarrub. Oleh karena itu mereka berkata,’Aku mendekatkan diri dengan domba ini.’ Tetapi jika setelah itu domba ini melahirkan anak jantan dan tidak ada yang mati maka domba ini boleh disembelih dan dagingnya dimakan.
    Al-Hami adalah onta jantan yang sudah menghamili 10 anak betina secara berturut-turut tanpa ada jantannya. Onta seperti ini tidak boleh ditunggangi, tidak boleh diambil bulunya, harus dibiarkan lepas dan tidak boleh dimanfaatkan untuk
    kepentingan apapun.”
    Karena itu Allah menurunkan ayat
    “Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya bahirah, sa’ibah, washilah dan hami. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah dan kebanyakan mereka tidak mengerti.” (Al Maidah: 103)
    dan juga ayat
    “Dan mereka mengatakan, ‘Apa yang ada di dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami,’ dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya.” (Al-An’am: 139)
Bangsa Arab melakukan segala hal tersebut dengan disertai keyakinan bahwa hal itu bisa mendekatkan mereka kepada Allah dan menghubungkan mereka kepada-Nya serta memberikan manfaat disisi-Nya.



sumber:http://cybermujahidah.wordpress.com/2011/02/19/kondisi-agama-bangsa-arab-sebelum-kedatangan-rasulullah-saw/





Diposting oleh Unknown di 03.41 1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Kamis, 28 Februari 2013

LIMA NAMA ORANG SUCI DI PERAHU SANG NABI

LIMA NAMA ORANG SUCI DI PERAHU SANG NABI (do’a tawassul di plat kapal nabi Nuh ‘alaihisalam)

Posted on Juli 20, 2011 by syiahali

Ayatullah (Bahasa Arab: آية الله; Bahasa Persia: آيت‌الله) adalah gelar tertinggi yang diberikan kepada ulama Syi’ah. Kata ini berarti “Tanda dari Allah” dan mereka yang memiliki gelar tersebut ahli dalam studi tentang Islam, seperti Syari’ah (Hukum Islam), filsafat, etika, mistik dan biasanya mengajar di sekolah pengetahuan tentang Islam (hauzah) atau pesantren kalau di Indonesia. Gelar di bawah Ayatullah adalah Hojætol-Islam (“Ahli tentang Islam”). baca selanjutnya Gelar ini diberikan secara konsensus: seorang pelajar relijius yang mendapatkan kehormatan dan kekaguman dari guru-gurunya untuk pengetahuan dan tingkah laku setelah menyelesaikan sekolah hauzah. Setelah itu ia dapat mengeluarkan fatwa tersendiri dengan bersumber pada : Al Qur’an, Sunnah, Ijma dan Aql/akal (ekuivalen dengan prinsip Sunni, Qiyas).

Ayatullah kemudian dapat mengajar di hauzah sesuai dengan keahliannya dan dapat berlaku sebagai referensi bagi pertanyaan relijius dan sebagai hakim dalam bidang agama. Hanya sedikit dari dari para Ayatullah yang penting yang diberikan gelar Ayatullah Utama / Grand Ayatollah (Ayætollah-e Ozme, “Tanda terbesar dari Allah”) atau Mærjæ’e Tæqlid (“Reference for Emulation”). Hal ini terjadi bila pengikut dari seorang Ayatullah mengikuti pedoman dari dia dalam berbagai situasi dan memintanya untuk mempublikasikan fatwa-fatwanya yang merupakan jawabannya dalam berbagai pertanyaan dalam kehidupan keseharian seorang Muslim. Buku ini disebut Risalah.

——————————————————

ilustrasi kapal  Nabi Nuh :

safeena2.jpg
bahtera-nabi-nuh.jpg

Rekor Dunia Yang Dipegang Oleh Kapal Nabi Nuh

Tolong Anda sebutkan berapa lama jarak masa yang terbentang di antara pengutusan para nabi Ulul Azmi?

Tiada penjelasan akurat dokumen-dokumen sejarah terkait dengan berapa jarak masa yang terbentang di antara pengutusan para nabi Ulul Azmi. Namun dalam sebagian literatur disebutkan beberapa hal yang berbeda-beda yang dari kesemua itu dapat ditarik kesimpulan sebagaimana berikut ini:

Jarak Nabi Adam As hingga Nabi Nuh As adalah lebih dari 1200 tahun lamanya. Jarak antara Nabi Nuh As hingga Nabi Ibrahim As adalah 2240 tahun. Jarak antara Nabi Ibrahim As hingga Nabi Musa As adalah 900 tahun. Jarak antara Nabi Musa As hingga Nabi Isa As adalah 1900 tahun. Dan jarak antara Nabi Isa As hingga Nabi Muhammad Saw adalah 620 tahun lamanya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Shadiq As bersabda, “Antara Nabi Nuh As dan Nabi Ibrahim As terbentang jarak seribu tahun lamanya.”

9a6f0  situs foto perahu nabi nuh di turki Rekor Dunia Yang Dipegang Oleh Kapal Nabi Nuh

Allah memerintahkan Nuh untuk membuat bahtera. Bersama para pengikutnya, Nuh mengumpulkan paku dan menebang kayu besar dari pohon yang ia tanam selama 40 tahun. Melalui wahyu-Nya, Allah membimbing Nuh membuat bahtera yang kuat untuk menghadapi serangan topan dan banjir. Berikut rekor dunia yang dipegang oleh Bahtera Nuh :

1. Bahtera Nuh Dipimpin Oleh Nahkoda Tertua Di Dunia (berusia 600 th).

Ibnu Abbas menceritakan Bahwa nabi Nuh diutus pada kaumnya ketika berumur 480 tahun. Masa kenabiannya adalah 120 tahun dan berdakwah selama 5 abad. Dia mengarungi banjir ketika ia berumur 600 tahun dan kemudian setelah banjir ia hidup selama 350 tahun.

2. Bahtera Nuh Merupakan Kapal Terbesar Di Dunia Yang Terbuat Dari Kayu.

Ibnu Abbas menceritakan Bahwa Suatu ketika Nabi Isa menghidupkan Ham bin Nuh dan bertanya kepadanya kenapa rambutnya beruban, ia menjawab dia meninggal di saat usia muda karena ketakutannya ketika banjir. Ia berkata bahwa panjang kapal Nuh adalah 1200 Kubit dan lebarnya 600 Kubit dan mempunyai 3 lapisan.

3. Bahtera Nuh Merupakan Alat Angkutan Laut Pertama Di Dunia.

Allah membimbing Nuh membuat bahtera yang kuat untuk menghadapi serangan topan dan banjir. Bahtera Nuh dianggap merupakan alat angkutan laut pertama di dunia.

4. Bahtera Nuh Merupakan Alat Angkutan Laut Pertama Di Dunia Yang Terbuat Dari Kayu.

Bersama para pengikutnya, Nuh mengumpulkan paku dan menebang kayu besar dari pohon yang ia tanam selama 40 tahun.

5. Bahtera Nuh Merupakan Kapal Angkut Bertingkat Pertama Di Dunia (3 tingkat).

Panjang kapal Nuh adalah 1200 Kubit dan lebarnya 600 Kubit dan mempunyai 3 lapisan. Tingkat pertama diletakkan binatang-binatang liar dan yang sudah dijinakkan, tingkat kedua ditempatkan manusiaingkat ketiga untuk burung-burung.

6. Bahtera Nuh Merupakan Kapal Yang Belayar Tertinggi Dari Dasar Laut.

Menurut Al Quran, bahtera Nuh telah mendarat di Bukit Judi. Ada pendapat yang menunjukkan suatu gunung di wilayah Kurdi atau tepatnya dibagian selatan Armenia, ada pendapat lain dari Wyatt Archeological Research, bukit tersebut terletak di wilayah Turkistan Iklim Butan, Timur laut pulau yang oleh orang-orang Arab disebut sebagai Jazirah Ibnu Umar (Tafsir al-Mishbah).

7. Bahtera Nuh Adalah Kapal Anti Topan Dan Banjir Pertama Di Dunia.

Allah membimbing Nuh membuat bahtera yang kuat untuk menghadapi serangan topan dan banjir. bootingskoBlog

8. Bahtera Nuh Adalah Kapal Pertama Yang Berlayar Tanpa Kompas.

Setelah bahtera itu selesai, Kitab Kejadian menggambarkan bahwa air merendam bumi selama 150 hari lamanya dan setelah itu air mulai surut.

9. Bahtera Nuh Dinahkodai Bukan Ahli Ilmu Kelautan Dan Perbintangan.

Nuh adalah seorang nabi yang diceritakan dalam Taurat, Alkitab, dan Al-Quran. Nuh diangkat menjadi nabi sekitar tahun 3650 SM. Diperkirakan ia tinggal di wilayah Selatan Irak modern.

10. Bahtera Nuh Adalah Satu-Satunya Kapal Angkut Dengan Penumpang Paling Sedikit Pertama Di Dunia.

Ibnu Thabari menceritakan setelah kapal berlabuh di pegunungan Ararat, ia kemudian membangun suatukota di daerah Ararat (Qarda) disuatu areal yang termasuk Mesopotamia dan menamakan kota tersebut Themanon (Kota delapan Puluh) karena kota tersebut dibangun oleh orang yang beriman yang berjumlah 80 orang.

11. Bahtera Nuh Adalah Kapal Angkut Yang Mengangkut Jenis Binatang Berpasangan Terbanyak Di Dunia.

Nuh memiliki 4 anak laki-laki: Kan�an, Sem, Ham, dan Yafet. Menurut kitab Kejadian, pada jamannya terjadi air bah yang menutupi seluruh bumi; hanya ia sekeluarga (istrinya, ketiga anaknya, dan ketiga menantunya) dan binatang-binatang yang ada di dalam bahtera Nuh yang selamat dari air bah tersebut.

12. Bahtera Nuh Satu-Satunya Kapal Yang Mendarat Di Gunung.

Berdasarkan foto yang dihasilkan dari gunung Ararat, menunjukkan sebuah perahu yang sangat besar diperkirakan memilik luas 7.546 kaki dengan panjang 500 kaki, lebar 83 kaki dan tinggi 50 kaki dan masih ada tiga tingkat lagi diatasnya.

13. Bahtera Nuh Adalah Kapal Yang Mengarungi Banjir Terlama Di Dunia.

Kitab Kejadian menggambarkan bahwa air merendam bumi selama 150 hari lamanya dan setelah itu air mulai surut. Nuh menunggu hingga bumi benar-benar kering sebelum membuka pintu bahtera.

penemuan kapal nabi nuh, hmmmm… percaya gak???


KAPAL NABI NUH

.

Kapal Nabi Nuh

Sebuah tim petualang dari Kristen Evangelis mengklaim bahwa mereka telah menemukan sisa-sisa bahtera Nuh di bawah salju dan puing-puing vulkanis di Turki.
sumber:http://syiahali.wordpress.com/page/446/?referer=www.domainratio.com
.

Diposting oleh Unknown di 21.13 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Jumat, 22 Februari 2013

Hudzaifah Ibnul Yaman

Hudzaifah Ibnul Yaman
Pemegang rahasia Rasulullah saw

Beliau adalah Hudzaifah bin Husail bin Jabir Al ‘Absi Al Yamani, Abu Abdillah.[1]  Al Yaman, ayah Hudzaifah, adalah Hisl, dikatakan Husail, orang Makkah dari bani ‘Abbas. Oleh karena hutang darah dalam kaumnya, ia terpaksa menyingkir dari Makkah ke Yatsrib (Madinah). Di sana dia minta perlindungan pada Bani ‘Abd Asyhal dan bersumpah setia pada mereka untuk menjadi keluarga dalam persukuan Bani ‘Abd Asyhal. Kemudian ia kawin dengan perempuan suku Asyhal. Dari perkawinannya itu lahirlah anaknya, Hudzaifah. Maka hilanglah halangan yang menghambat Al Yaman untuk memasuki kota Makkah. Sejak itu dia bebas pulang pergi antara Makkah dan Madinah. Namun begitu, dia lebih banyak tinggal dan menetap di Madinah.[2]  Nama Al Yaman adalah penamaan dari kaumnya, karena sumpahnya untuk orang-orang Yaman, sedang mereka adalah kaum ansor.[3]
Awal Keislamannya
Ketika Islam memancarkan cahayanya ke Jazirah Arab, Al Yaman termasuk salah seorang dari sepuluh orang Bani ‘Abbas untuk menemui Rasulullah saw SAW dan menyatakan Islam dihadapan beliau.. Semua itu terjadi sebelum hijrah Rasulullah saw ke Madinah. Sesuai dengan garis keturunan yang berlaku di negeri Arab, yaitu menurut garis keturunan bapak(patriachal), maka Hudzaifah adalah orang Makkah yang lahir dan dibesarkan di Madinah.
Hudaifah Ibnul Yaman lahir di rumah tangga muslim, dipelihara dan dibesarkan dalam pangkuan kedua ibu  bapaknya yang telah memeluk agama Allah, sebagai rombongan pertama. Karena itu Hudzaifah telah Islam sebelum ia bertemu muka dengan Rasulullah saw SAW.[4]
Periwayatan Hadits
Para sahabat yang meriwayatkan hadits dari beliau adalah : Abu Wail, Zir bin Hubaisy, Zaid bin Wahab, Rib’i bin Hirosy, Silah bin Zufir, Tsa’labah bin Zahdam, Abu ‘Aliyah  Ar Riyayi, Abdurrahman bin Abi Laila, Muslim bin Nuzair Abu Idris Al Khoulani, Qois bin Ubad, Abul Bakhtari, Na’im bin Abi Hindi, Hammam bin Harits.
Jumlah hadits yang diriwayatkan olehnya dalam shohihain adalah 12 hadits. Sedangkan dalam shohih bukhori 8 hadits, Muslim 17 hadits.[5]
Keistimewaan Hudzaifah Ibnul Yaman
Rasulullah saw menilai, dalam pribadi Hudzaifah Ibnul Yaman terdapat tiga keistimewaan yang menonjol :
Pertama    :    cerdas tiada bandingan, sehingga ia dapat meloloskan diri dalam situasi     yang serba sulit.
Kedua    :    cepat tanggap, berpikir cepat, tepat dan jitu, yang dapat dilakukannya setiap diperlukan.
Ketiga    :    memegang rahasia, dan berdisiplin tinggi, sehingga tak seorangpun dapat mengorek yang dirahasiakannya
Sudah menjadi salah satu kebijaksanaan Rasulullah saw, berusaha menyingkap keistimewaan para sahabatnya, dan menyalurkannya sesuai dengan bakat dan kesanggupan yang terpendam dalam pribadi masing-masing mereka. Yakni menempatkan seseorang pada tempat yang selaras.
Kesulitan terbesar yang dihadapi kaum muslimin di Madinah adalah kehadiran kaumYahudi munafik dan sekutu mereka, yang selalu membuat isu-isu dan muslihat jahat, yang dilancarkan mereka terhadap Rasulullah dan para sahabatnya. Maka dalam menghadapi kesulitan itu Rasulullah saw mempercayakan suatu yang sangat rahasia kepada Hudzaifah Ibnul Yaman, dengan memberikan daftar nama orang munafik itu kepadanya. Itulah suatu rahasia yang tidak pernah bocor kepada siapa pun hingga sekarang, baik kepada para sahabat yang lain atau kepada siapa saja. Dengan mempercayakan hal yang sangat rahasia itu, Rasulullah saw menugaskan Hudzaifah memonitor setiap gerak-gerik dan kegiatan mereka, untuk mencegah bahaya yang mungkin dilontarkan mereka terhadap Islam dan kaum muslimin. Dan karena itu, Hudzaifah Ibnul Yaman digelari oleh para sahabat dengan ” Shohibu sirri Rasulullah saw” (Pemegang rahasia Rasulullah saw).
Pada suatu ketika, Rasulullah saw memerintahkan Hudzaifah melaksanakan suatu tugas yang amat berbahaya, dan membutuhkan ketrampilan luar biasa untuk mengatasinya. Karena itulah beliau memilih orang yang cerdas, tanggap dan disiplin tinggi. Peristiwa itu terjadi pada puncak peperangan Khondak. Kaum muslimin telah lama dikepung rapat oleh musuh, sehingga mereka merasakan ujian yang berat, menahan penderitaan yang hampir tak tertanggungkan, serta kesulitan-kesulitan yang tak teratasi. Semakin hari situasi semakin gawat, sehingga menggoyahkan hati yang lemah. Bahkan menjadikan sementara kaum muslimin berprasangka yang tidak wajar terhadap Allah SWT.
Namun begitu, pada saat kaum muslimin mengalami ujian berat dan menentukan itu, kaum Quraisy dan sekutunya yang terdiri dari kaum musyrik, tidak lebih baik keadaannya dari pada yang dialami kaum muslimin. Karena murka Nya, maka Allah azza wa jalla menimpakan bencana kepada mereka dan melemahkan kekuatannya. Allah meniupkan angin topan yang amat dahsyat, sehingga menerbangkan kemah-kemah mereka, membalikkan periuk, kuali dan belanga, memadamkan api, menyiram muka mereka dengan pasir dan menutup mata dan hidung mereka dengan tanah.
Pada situasi genting dalam sejarah setiap peperangan, pihak yang kalah adalah yang lebih dahulu mengeluh dan pihak yang menang ialah yang dapat bertahan menguasai diri melebihi lawannya. Maka dalam detik-detik seperti itu, amat diperlukan informasi secepatnya mengenai kondisi musuh, untuk menetapkan penilaian dan landasan dalam mengambil putusan melalui musyawarah.
Ketika itulah Rasulullah membutuhkan ketrampilan Hudzaifah Ibnul Yaman, untuk mendapatkan info-info yang tepat dan pasti. Maka beliau memutuskan untuk mengirim Hudzaifah ke jantung pertahanan musuh, dalam kegelapan malam yang hitam pekat.
Hudzaifah bercerita : “Malam itu kami (tentara muslim) duduk berbaris, Abu Sofyan dengan dua baris pasukannya kaum musyrikin Makkah mengepung kami sebelah atas. Orang-orang Yahudi Bani Quraidhoh berada disebelah bawah. Yang kami kuatirkan ialah serangan mereka terhadap para wanita dan anak-anak kami. Malam sangat gelap. Belum pernah kami alami gelap malam yang sepekat itu, sehingga tidak dapat melihat anak jari sendiri. Angin bertiup sangat kencang, sehingga desirnya menimbulkan suara bising yang memekakkan. Orang-orang lemah iman, dan orang-orang munafik minta izin pulang kepada Rasulullah, dengan alasan rumah mereka tidak terkunci. Padahal sebenarnya rumah mereka terkunci.
Setiap orang yang minta izin pulang, diberi izin oleh Rasulullah saw, tidak ada yang dilarang atau di tahan beliau. Semuanya pergi dengan sembunyi-sembunyi, sehingga kami  yang tetap bertahan, hanya tinggal 300 orang.
Rasulullah saw berdiri dan berjalan memeriksa kami satu persatu. Setelah beliau sampai ke dekatku, aku sedang meringkuk kedinginan. Tidak ada yang melindungi tubuhku dari udara dingin yang menusuk-nusuk, selain sehelai sarung butut kepunyaan istriku, yang hanya dapat menutupi hingga lutut. Beliau mendekatiku yang sedang menggigil, seraya bertanya, ” Siapa ini ?”
” Hudzaifah ! ” jawabku.
“Hudzaifah! Tanya Rasulullah saw minta kepastian. Aku merapat ke tanah, sulit berdiri karena sangat lapar dan dingin.
” Betul, ya Rasulullah saw!” jawabku.
“Ada beberapa peristiwa yang dialami musuh, pergilah engkau ke sana dengan sembunyi-sembunyi untuk mendapatkan data-data yang pasti, dan laporkan kepadaku segera…..!” kata beliau memerintah.
Aku bangun dengan ketakutan dan kedinginan yang sangat menusuk. Maka mendo’a Rasulullah saw, “Wahai Allah! Lindungilah  dia, dari hadapan, dari belakang, kanan, kiri, atas dan dari bawah.”
Demi Allah! Sesudah Rasulullah saw selesai mendo’a, ketakutan yang menghantui dalam dadaku, dan kedinginan yang menusuk tubuhku hilang seketika, sehingga aku merasa segar dan perkasa. Tatkala aku memalingkan diriku dari Rasulullah saw, beliau memanggilku dan berkata,” Hai, Hudzaifah! Sekali-kali jangan melakukan tindakan yang mencurigakan mereka sampai tugasmu selesai,dan kembali melapor kepadaku!”
Jawabku, ” Saya siap, ya Rasulullah saw!”
Lalu aku pergi dengan sembunyi-sembunyi dan hati-hati sekali, dalam kegelapan malam yang hitam kelam. Aku berhasil menyusuf ke jantung pertahanan musuh dengan berlagak seolah-olah aku anggota pasukan mereka. Belum lama aku berada di tengah-tengah mereka, tiba-tiba terdengar Abu Sufyan memberi komando.
Katanya, ” Hai, pasukan Quraisy! Dengarkanlah aku berbicara kepada kamu sekalian. Aku sangat kuatir, hendaknya pembicaraanku ini jangan sampai terdangar oleh Muhammad. Karena itu telitilah lebih dahulu setiap orang yang berada di samping kalian masing-masing!”
Mendengar ucapan Abu Sufyan itu, aku segera memegang tangan orang yang di sampingku seraya bertanya, “Siapa kamu?” Jawabnya, “Aku si Anu, anak si Anu!”
Sesudah dirasanya aman, Abu Sufyan melanjutkan bicaranya, ” Hai, pasukan Quraisy! Demi Tuhan! Sesungguhnya kita tidak dapat bertahan di sini lebih lama lagi. Hewan-hewan kendaraan kita telah banyak yang mati. Bani Quraidzah berkhianat meninggalkan kita. Angin topan menyerang kita dengan ganas seperti kalian rasakan. Karena itu berangkatlah kalian sekarang, dan tinggalkan tempat ini. Sesungguhnya aku sendiri akan berangkat.”
Selesai berkata begitu, Abu Sufyan langsung mendekati untanya, dilepaskannya tali penambat, lalu dinaiki dan dipukulnya. Unta itu bangun dan Abu Sufyan langsung berangkat. Seandainya Rasulullah saw tidak melarangku melakukan sesuatu tindakan di luar perintah sebelum datang melapor kepada beliau, sungguh telah kubunuh Abu Sufyan dengan pedangku.
Aku kembali ke pos komando menemui Rasulullah saw. Kudapati beliau sedang sholat di tikar kulit, milik salah seorang istrinya. Tatkala beliau melihatku, didekatkannya kakinya kepadaku dan diulurkannya ujung tikar menyuruhku duduk di dekatnya. Lalu ku laporkan kepada beliau segala kejadian yang kulihat dan kudengar. Beliau sangat senang dan bersuka cita, serta mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT.
Hudzaifah sangat cermat dan teguh memegang segala rahasia mengenai orang-orang muafik selama hidupnya. Sehingga kepada para kholifah sekalipun, yang mencoba mengorek rahasia tersebut tidak pernah bocor olehnya. Sampai-sampai kholifah Umar bin Khottob RA, apabila ada orang muslim yang meninggal, dia bertanya, “Apakah Hudzaifah turut menyolatkan jenazah orang itu?” Jika mereka jawab, ada, beliau turut menyolatkannya. Bila mereka katakan tidak, beliau enggan menyolatkannya.
Pada suatu ketika, Kholifah ‘Umar pernah bertanya kepada Hudzaifah dengan cerdik, “Adakah diantara pegawai-pegawaiku orang munafik?”
Jawab Hudzaifah, “Ada seorang!”
Kata ‘Umar, “Tolong tunjukkan kepadaku, siapa?”
Jawab Hudzaifah, “Ma’af Kholifah, saya dilarang Rasulullah mengatakannya.”
“Seandainya Aku tunjukkan, tentu Kholifah akan langsung memecat pegawai yang bersangkutan.” kata Hudzaifah bercerita.[6]  Rasulullah saw SAW pernah bertanya kepada Hudzaifah, ” Tulislah untukku jumlah manusia yang telah melafalkan keislamannya!” Maka kami menulis untuknya ( bahwa jumlah mereka ) seribu lima ratus orang.[7]
Hudzaifah juga juga termasuk tokoh yang memprakarsai keseragaman mushaf Al Qur’an, sesudah Kitabullah itu beraneka ragam coraknya di tangan kaum muslimin. Dan Hudzaifah hamba Allah yang sangat takut kepada Allah. Dia takut melanggar perintah dan larangan Allah, dan sangat takut akan siksa Nya.
Kepemimpinan dan Jihad Hudzaifah
Hudzaifah menjadi gubernur Madain pada saat kepemerintahan Umar, sampai terbunuhnya Utsman. Saat beliau datang ke Madain, mereka berduyun-duyun keluar untuk menyambut kedatangan wali negeri mereka yang baru diangkat serta dipilih oleh Amirul Mukminin Umar r.a.
Mereka pergi menyambutnya, karena lamalah sudah hati mereka rindu untuk bertemu muka dengan sahabat nabi yang mulia ini, yang telah banyak mereka dengar mengenai kesholehan dan ketaqwaannya, begitu pula tentang jasa-jasanya dalam membebaskan tanah Irak.
Ketika mereka sedang menunggu rombongan yang hendak datang, tiba-tiba muncullah di hadapan mereka seorang laki-laki dengan wajah berseri-seri. Ia mengendarai seekor keledai yang beralaskan kain usang, sedang kedua kakinya teruntai ke bawah, kedua tangannya memegang roti serta garam sedang mulutnya sedang mengunyah…!
Demi ia berada ditengah-tengah orang banyak dan mereka tahu bahwa orang itu tidak lain Hudzaifah Ibnul Yaman, maka mereka jadi bingung dan hampir-hampir tak percaya. Tetapi apa yang akan diherankan…? Corak kepemimpinan bagaimana yang mereka nantikan sebagai pilihan Umar? Hal itu dapat difahami, karena baik di masa kerajaan Persi yang terkenal itu atau sebelumnya, tak pernah diketahui adanya corak pemimpin semulia ini.
Hudzaifah meneruskan perjalanan sedang orang – orang berkerumunan dan mengelilinginya. Dan ketika dilihat bahwa mereka menatapnya seolah-olah menunggu amanat, diperhatikannya air muka mereka, lalu katanya, “Jauhilah oleh kalian tempat-tempat fitnah!
Ujar mereka : “Di manakah tempat-tempat fitnah itu wahai Abu Abdillah?
Ujarnya : “Pintu rumah pembesar! Seorang di antara kalian masuk menemui mereka dan mengiakan ucapan palsu serta memuji perbuatan baik yang tak pernah mereka lakukan !”
Suatu pernyataan yang luar biasa disamping sangat menakjubkan! Dari ucapan yang mereka dengar dari wali negeri yang baru ini, orang-orang segera beroleh kesimpulan bahwa tak ada yang lebih dibencinya tentang apa saja yang terdapat di dunia ini, begitu pun yang lebih hina dalam pandangan matanya dari pada kemunafikan. Dan pernyataan ini sekaligus merupakan ungkapan yang paling tepat terhadap kepribadian wali negeri baru ini, serta sistem yang akan ditempuhnya dalam pemerintahan.[8]
Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, Hudzaifah selalu mendampingi beliau bagaikan seorang kekasih. Hudzaifah turut bersama-sama dalam setiap peperangan yang dipimpinnya, kecuali pada perang Badar. Karena saat itu beliau sedang pergi sama bapaknya keluar kota madinah. Dalam perjalanan pulang, mereka ditangkap oleh orang kafir Quraisy. Tanya mereka, “Hendak ke mana kalian ?”
Jawab kami, “Ke madinah!”
Tanya mereka, “Kalian hendak menemui Muhammad ?”
Jawab kami, “Kami hendak pulang ke rumah kami Madinah !”
Mereka tidak bersedia membebaskan kami, kecuali dengan perjanjian bahwa kami tidak akan membantu Muhammad, dan tidak akan memerangi mereka. Sesudah itu barulah mereka dibebaskan.
Dalam perang Uhud, Hudzaifah turut memerangi kaum kafir bersama ayahnya, Al Yaman. Dalam peristiwa itu Hudzaifah mendapat cobaan besar. Dia pulang dengan selamat, tetapi ayahnya syahid di tangan kaum muslimin sendiri, bukan oleh kaum musyrikin.[9]
Cukuplah sebagai bukti, ia merupakan orang ketiga atau kelima dalam deretan tokoh-tokoh terpenting pada pembebasan seluruh wilayah Irak. Kota-kota Hamdan, Rai, dan Dainawar, selesai pembebasannya di bawah komando Hudzaifah.
Dalam pertempuran besar Nahawand, orang-orang Persi berhasil menghimpun 150.000 tentara. Amirul Mukminin Umar memilih Nu’man bin Muqorrin sebagai panglima Islam, sedang kepada Hudzaifah dikirimnya surat agar ia menuju tempat itu sebagai komandan tentara Kufah.
Kepada para pejuang itu Umar kirim surat, yang isinya : “Jika kaum muslimin telah berkumpul, maka masing-masing panglima hendaklah mengepalai anak buahnya, sedang yang akan menjadi panglima besar adalah Nu’man bin Muqorrin. Seandainya ia tewas, maka panji-panji komando hendaklah dipegang oleh Hudzaifah, kalau ia tewas pula, diganti Jarir bin Abdillah…”
Amirul Mu’minin masih menyebutkan beberapa nama lagi, ada tujuh orang yang memegang kepemimpinan secara berurutan.
Kedua pasukan pun berhadapanlah….  Pasukan Persi berjumlah 150 ribu tentara, sedang kaum muslimin 30 ribu pejuang. Perang pun berkobar, suatu pertempuran yang tak ada tolak bandingnya, perang terdahsyat dan paling sengit dikenal oleh sejarah…!
Panglima besar kaum muslimin gugur sebagai syahid, tapi sebelum bendera menyentuh tanah, panglima yang baru telah menyambutnya dengan tangan kanannya, dan angin kemenanganpun meniup dan menggiring tentara maju ke muka dengan semangat penuh dan keberanian luar biasa. Panglima baru itu tiada lain Hudzaifah ibnul Yaman.
Bendera segera disambutnya, dan dipesankannya agar kematian Nu’man tidak disiarkan sebelum peperangan selesai. Setelah Hudzaifah memegang bendera, ia menerjang pasukan Persi sambil menyerukan :
“Allahu Akbar, Ia telah menepati janjiNya, Allahu Akbar, telah dibela tentara Nya”
Lalu diputarlah kekang kudanya ke arah anak buahnya, dan berseru :
“Hai Umat Muhammad, pintu-pintu surga telah terbuka lebar, siapa sedia menyambut kedatangan tuan-tuan….! Jangan biarkan ia menunggu lebih lama….! Ayuhlah wahai pahlawan-pahlawan Badar…! Majulah pejuang-pejuangUhud, Khondak dan Tabuk…!”
Dengan ucapan-ucapannya itu, Hudzaifah telah memelihara semangat tempur dan ketahanan anak buahnya. Sehingga perang berahir dengan kekalahan pahit bagi pasukan Persi, suatu kekalahan yang jarang ditemukan bandingannya.
Dialah seorang pahlawan di bidang hikmat, ketika sedang tenggelam dalam renungan, pahlawan di medan juang, ketika berada di medan laga. Pendeknya ia seorang tokoh dalam urusan apa juga yang dipikulkan atas pundaknya, dalam setiap persoalan yang membutuhkan pertimbangannya.[10]

Kesempurnaan Fikiran dan Jiwanya
Sungguh Hudzaifah telah dikaruniai fikiran jernih, menyebabkannya sampai pada suatu kesimpulan, bahwa dalam kehidupan ini sesuatu yang baik itu adalah yang jelas dan gamblang, yakni bagi orang yang betul-betul menginginkannya. Sebaliknya yang jelek ialah yang gelap atau samar-samar, dan karena itu orang yang bijaksana hendaklah mempelajari sumber-sumber kejahatan ini dan kemungkinan-kemungkinannya.
Demikianlah Hudzaifah RA. terus menerus mempelajari kejahatan dan orang-orang jahat, kemunafikan dan orang-orang munafik. Berkatalah ia : “Orang-orang menanyakan kepada Rasulullah saw saw, tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepadanya tentang kejahatan, karena takut akan terlibat di dalamnya.”
Pernah bertanya :”Wahai Rasululloh, dulu kita berada dalam kejahiliyahan dan diliputi kejahatan, lalu Allah mendatangkan kepada kita kebaikan ini, apakah dibalik kebaikan ini ada kejahatan?” “Ada” ujarnya.”Kemudian apakah setelah kejahatan masih ada lagi kebaikan?, tanyaku pula. “Memang, tetapi kabur dan bahaya.” “Apa bahaya itu ?”.”Yaitu segolongan umat mengikuti sunnah bukan sunahku, dan mengikuti petunjuk bukan petunjukku. Kenalilah mereka olehmu dan laranglah!” “Kemudian setelah kebaikan tersebut masihkah ada lagi kejahatan ?” tanyaku pula. “Masih”, ujar Nabi, “yakni para tukang seru di pintu neraka. Barang siapa menyambut seruan mereka, akan mereka lemparkan ke dalam neraka !
Lalu kutanyakan pada Rasululloh : “Ya Rasulullah, apa yang harus saya perbuat bila saya menghadapi hal demikian…?” Ujar Rasulullah: “Senantiasa mengikuti jama’ah kaum Muslimin dan pemimpin mereka !” “Bagaimana kalau mereka tidak punya jama’ah dan tidak pula pemimpin ?” “Hendaklah kamu tinggalkan golongan-golongan itu semua, walaupun kamu akan tinggal di rumpun kayu sampai kamu menemui ajal dalam keadaan demikian.”
Nah, tidakkah anda perhatikan ucapannya : “Orang-orang menanyakan kepada Rasulullah saw saw, tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepadanya tentang kejahatan, karena takut akan terlibat di dalamnya…!
Hudzaifah juga pernah berkata : “Sungguh saya akan membeli agamaku sebagian dengan sebagian yang lain, karena saya takut akan hilang semuanya.”[11]
Hudzaifah Ibnul Yaman menempuh kehidupan ini dengan mata terbuka dan hati waspada terhadap sumber-sumber fitnah dan liku-likunya demi menjaga diri dan memperingatkan manusia terhadap bahayanya. Dengan demikian ia menganalisa kehidupan dunia ini dan mengkaji pribadi orang serta meraba situasi.
Pengalaman Hudzaifah yang luas tentang kejahatan dan ketekunannya untuk melawan dan menentangnya, menyebabkan lidah dan kata-katanya menjadi tajam dan pedas. Hal ini diakuinya kepada kita secara ksatria, katanya : “Saya datang menemui Rasulullah saw, kataku padanya :”Wahai Rasulullah, lidahku agak tajam terhadap keluargaku, dan saya kuatir kalau-kalau hal itu akan menyebabkan saya masuk neraka.” Maka ujar Rasulullah saw : “kenapa kamu tidak beristighfar ?” “Sungguh saya beristighfar kepada Allah tiap hari seratus kali.”
Hudzaifah adalah sahabat yang imannya teguh dan kecintaanya mendalam. Disaksikan bapaknya yang telah beragama Islam tewas di perang Uhud, di tangan srikandi Islam sendiri, yang melakukan kekhilafan karena menyangka, sebagai orang musyrik! Hudzaifah melihat dari jauh pedang sedang dihujamkan kepada ayahnya, ia berteriak, “Ayahku … ayahku ….. jangan ia ayahku…” Tapi qadha Allah telah tiba.
Ketika kaum muslimin tahu hal itu, merekapun diliputi suasana duka dan membisu. Tetapi sambil memandangi mereka dengan sikap kasih sayang dan penuh pengampunan, katanya, “Semoga Allah mengampunu tuan-tuan, Ia adalah sebaik-baik Penyayang.”
Kemudian dengan pedang terhunus ia maju ke daerah tempat berkecamuknya pertempuran dan membaktikan tenaga serta menunaikan tugas kewajibannya. Akhirnya peperangan pun usailah, dan berita tersebut sampai ke telinga Rasulullah SAW. Maka disuruhnya membayar diyat atas terbunuhnya ayahanda Hudzaifah (Husail bin Yabir) yang ternyata ditolak oleh Hudzaifah, dan disuruh membagikannya kepada kaum muslimin. Hal itu menambah sayang dan tingginya penilaian Rasulullah terhadap dirinya.[12]

Kisah Wafatnya
Ketika Hudzaifah sakit keras menjelang ajalnya tiba, beberapa orang sahabat datang mengunjunginya tengah malam. Hudzaifah bertanya kepada mereka,”Pukul berapa sekarang?”
Jawab mereka,”Sudah dekat Subuh,”
Kata Hudzaifah,”Aku berlindung kepada Allah, dari Subuh yang menyebabkan aku masuk neraka.” Kemudian dia bertanya,”Adakah tuan-tuan membawa kain kafan?”
Jawab mereka,”Ada.!”
Kata Hudzaifah,”Tidak perlu kafan yang mahal. Jika diriku baik dalam penilaian Allah, Dia akan menggantinya umtukku dengan kafan yang lebih baik. Dan jika aku tidak baik dalampandangan Allah, Dia akan menanggalkan kafan itu dari tubuhku.”
Sesudah itu dia mendo’a,”Wahai Allah! Sesungguhnya engkau tahu, bahwa aku lebih suka fakir dari pada kaya, aku lebih suka sederhana dari pada mewah, dan aku lebih suka mati dari pada hidup.”Sesudah mendo’a begitu ruhnya berangkat. Seorang kekasih Allah kembali kepada Allah dalam kerinduan.Semoga Allah melimpahkam rahmatNya. Beliau menghadap illahi di Madain setelah kematian Utsman pada tahun 36 hijriyah.[13]

sumber:http://syiahali.wordpress.com/page/446/?referer=www.domainratio.com

Diposting oleh Unknown di 20.48 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Peristiwa Perang Badar

 Peristiwa Perang Badar 


Pada hari jumat 2 ramadhan tahun ke-2 hijrah terjadi perang pertama dalam islam yang dikenal perang badar. Badar adalah nama tempat di sebuah lembah yang terletak di antara madinah dan mekah. Tentara islam mengontrol lokasi strategis dengan menguasai sumber air yang ada di situ. 

Perang ini melibatkan tentara islam sebanyak 313 anggota berhadapan dengan 1.000 tentara musyrikin mekah yang lengkap bersenjata. Dalam perang ini, tentara islam memenangkan pertempuran dengan 70 tentara musyrikin terbunuh, 70 lagi ditawan. Sisanya melarikan diri. 

Perang ini adalah suatu yang luar biasa ketika tentara islam yang kurang jumlah, lemah dari sudut kelengkapandan berpuasa dalam bulan ramadhan memenangkan pertempuran perang badar. Ini membuktikan puasa bukan penyebab umat islam bersikap lemah dan malas sebaliknya berusaha demi mencapai keredhaan allah. Orang yang berjuang demi mencapai kerdhaan allah pasti mencapai kemenangan yang dijanjikan. Allah menegaskan dalam surah aali 'imran ayat 123 sampai 125. 

"Sesungguhnya allah membantu kamu dalam perang badar, sedangkan pada waktu itu kamu orang yang lemah. Sebab itu bertaqwalah kepada allah agar kamu mensyukurinya." 

sumber:http://www.hariansobek.com/2011/08/13-peristiwa-besar-dalam-sejarah-yang.html

Diposting oleh Unknown di 20.23 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Postingan Lebih Baru Postingan Lama
Langganan: Postingan (Atom)
@ 2011 sejarah islam; Many thanks to: Blogger Templates / blog Design Company / SEO / free template Blog